Rabu, 15 Juni 2011

KONDISI FISIK WILAYAH DAN PENDUDUK INDONESIA



KEGIATAN BELAJAR
A.Alokasi waktu             : 2 x 40 menit
B.Petunjuk Penggunaan
Untuk menggunakan modul ini diharapkan siswa membaca dan memahami isi atau materi pembelajaran yang ada dalam modul ini secara individual,kemudian dilanjutkan dengan mengerjakan soal evaluasi untuk mengetahui kemampuan anda dalam kegiatan pembelajaran ini.
C.Kompetensi  Dasar
            Siswa diharapkan dapat mendeskripsikan kondisi fisik wilayah dan penduduk.
D.Indikator
§  Siswa dapat menunjukkan letak geografis (posisi geografis,letak geografis) indonesia.
§  Siswa dapat menganalisis hubungan posisi geografis dengan perubahan musim di indonesia.
§  Siswa dapat mengidentifikasi penyebab terjadinya perubahan musim dan menentukan bulan berlangsungnya musim hujan dan musim kemarau di wilayah indonesia.
§  Siswa dapat menyajikan informasi persebaran flora dan fauna tipe Asia,tipe Australia,dan kaitannya dengan pembagian wilayah Wallacea dan Weber.
§  Siswa dapat mendeskripsikan persebaran jenis tanah dan pemanfaatannya di indonesia.


Pengalaman Belajar

A.   LETAK GEOGRAFIS DAN ASTRONOMIS INDONESIA

1. Letak Geografis Indonesia
Letak geografis suatu wilayah adalah keberadaan posisi wilayah tersebut sesuai dengan bentuk dan letaknya di bumi. Negara Indonesia merupakan rangkaian gugusan pulau yang terbentang sepanjang + 5.600 km dari Sabang hingga Merauke. Wilayah negara Republik Indonesia mempunyai gugusan pulau terbanyak di dunia. Data terbaru menunjukkan bahwa jumlah pulau di Indonesia mencapai 18.110 buah,terdiri atas pulau besar dan kecil, baik yang berpenghuni ataupun tidak. Keberadaan pulau-pulau dan luas wilayah tersebut merupakan salah satu unsur fisik penyusun wilayah Indonesia yang akan kita pelajari dalam bab ini. 
Untuk melihat letak wilayah Indonesia secara geografis,dapat dilihat pada peta dunia sebagai berikut.



Gambar 1.2 Peta letak geografis Indonesia
Berdasarkan gambar di atas dapat diketahui bahasa dilihat secara geografis, wilayah
Indonesia terletak pada posisi yang strategis dan menguntungkan karena beberapa alasan
sebagai berikut:
a) Letak Indonesia di antara Benua Asia dan Benua Australia.
b) Letak Indonesia di antara Samudra Pasifik dan Samudra Hindia.
Beberapa keuntungan yang diperoleh berdasarkan letak geografis Indonesia, antara
lain sebagai berikut:
a)       Indonesia yang terletak di antara dua benua dan dua samudra memungkinkan menjadi
             persimpangan lalu lintas dunia, baik lalu lintas udara maupun laut.
b)       Indonesia sebagai titik persilangan kegiatan perekonomian dunia, antara perdagangan
              negara-negara industri dan negara-negara yang sedang berkembang. Misalnya antara
Jepang, Korea, dan RRC dengan negara-negara di Asia, Afrika, dan Eropa.
Karena letak geografisnya pula Indonesia mendapat pengaruh berbagai kebudayaan
dan peradaban dunia, serta secara alami dipengaruhi oleh angin musim. Sekitar bulan
Oktober-April angin bertiup dari Asia ke Australia yang membawa banyak uap air dari
Samudra Pasifik sehingga menimbulkan musim hujan. Sekitar bulan April-Oktober angin
bertiup dari Australia ke Asia yang sedikit membawa uap air dari Samudra Hindia sehingga menimbulkan musim kemarau.
Pengaruh musim tersebut di atas menyebabkan Indonesia menjadi negara agraris
terkemuka. Pertanian di Indonesia maju pesat dan banyak menghasilkan beras, jagung,
sayur-sayuran, buah-buahan, karet, kopi, gula, tembakau, dan lain-lain yang sangat berguna
bagi kemakmuran dan keberlangsungan penduduk Indonesia, secara ekonomi pun menjadi
peluang untuk berperan serta dalam perdagangan internasional.
Letak geografis Indonesia mempunyai pengaruh terhadap aspek ekonomi, aspek
sosial, dan aspek budaya.
a. Pengaruh aspek ekonomi
Sebagai bangsa yang hidup di wilayah persimpangan kegiatan perekonomian dunia,
Indonesia tentu akan terlibat dalam kegiatan tersebut. Keikutsertaannya akan memberi
dampak yang positif bagi negara dalam rangka meningkatkan prokdutivitas ekonomi dan
menambah sumber-sumber pembiayaan bagi pembangunan nasional.
b. Pengaruh sosial
Letak Indonesia berpengaruh juga terhadap bidang sosial. Letaknya yang strategis
memudahkan bangsa Indonesia berhubungan dengan bangsa-bangsa lain sehingga proses
interaksi sosial lebih dinamis.
c. Pengaruh kebudayaan
Wilayah Indonesia yang terdiri atas ribuan pulau yang dipisahkan oleh selat dan laut
merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Kondisi tersebut melahirkan
keanekaragaman bahasa, suku, agama, dan kebudayaan. Keragaman tersebut menjadi
kekhasan dan daya tarik tersendiri bagi pihak-pihak luar serta memperkaya kebudayaan
nasional.
Letak geografis diartikan sebagai letak suatu wilayah kaitannya dengan wilayah lain di muka bumi. Secara geografis, Indonesia terletak di antara Benua Asia dan Benua Australia, serta di antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik.


Letak geografis Indonesia menempatkan Indonesia di posisi silang, sehingga Indonesia berada pada jalur transportasi perdagangan yang ramai. Bahkan sejak zaman dahulu, perairan Nusantara merupakan perairan yang ramai dilalui kapal-kapal dagang dari India, Eropa, dan Cina. Dampak dari posisi silang ini menyebabkan Indonesia kaya akan keragaman budaya dan suku bangsa. Selain itu, letak di antara dua benua dan dua samudra memengaruhi kondisi cuaca dan iklim. Benua dan samudra yang memiliki karakteristik iklim yang berlainan, secara periodik memengaruhi keadaan cuaca dan iklim di Indonesia yang terletak di garis khatulistiwa.
2. Letak Astronomis Indonesia
Letak astronomis adalah letak suatu wilayah dipandang dari kedudukan garis lintang
dan garis bujur. Letak wilayah Indonesia dari segi astronomis adalah di antara 6ºLU-
11ºLS dan antara 95º BT- 141ºBT. Berdasarkan letak tersebut, Indonesia memiliki iklim
tropis. Dengan posisi wilayah Indonesia berada di antara garis lintang dan garis bujur,
maka wilayah Indonesia dilewati oleh garis khatulistiwa. Garis khatulistiwa adalah garis
khayal keliling bumi, terletak melintang pada nol derajat yang membagi bumi menjadi dua
belahan yang sama, yaitu Belahan Bumi Utara dan Belahan Bumi Selatan. Beberapa tempat
atau wilayah Indonesia yang dilewati oleh garis khatulistiwa antara lain Bonjol (Sumatra
Barat), Pontianak (Kalimantan Barat), Tambu (Sulawesi Tengah), dan Halmahera (Maluku).
Letak astronomis wilayah Indonesia sangat berpengaruh terhadap keadaan iklim yang
sangat menguntungkan, seperti cukup mendapat air hujan, cukup memperoleh cahaya matahari sepanjang tahun, dan angin yang bertiup rata-rata berkecepatan sedang. Suhu
udara pun tidak terlalu rendah dan tidak terlalu tinggi.Suhu udara rata-rata di Indonesia sebesar 26ºC menyebabkan beberapa hal berikut ini:
a. Terjadinya hujan zenithal, yaitu hujan yang disebabkan oleh naiknya udara yang
mengandung uap air ke angkasa secara tegak. Selanjutnya, mengalami kondensasi karena
pendinginan temperatur akhirnya turun menjadi hujan. Naiknya udara tersebut karena
adanya pemanasan di atas permukaan bumi sehingga udara membumbung ke atas.
b. Batu-batuan lebih cepat melapuk.
c. Adanya berbagai macam tumbuhan dan hewan yang hidup di daerah tropis.
d. Adanya sikap tertentu dari penduduk untuk menghadapi suhu udara tropis seperti
tecermin pada perumahan, pakaian, dan mata pencaharian.

 
Gambar 1.4 Peta letak astronomis Indonesia
Perpaduan antara letak astronomis dengan letak geografis Indonesia tersebut menimbulkan kondisi berikut ini.
1) Matahari bersinar terus menerus sepanjang tahun.
2) Penguapan tinggi, sehingga kelembapan juga tinggi.
3) Memiliki curah hujan yang relatif tinggi.
4) Memiliki wilayah hutan hujan tropis yang cukup lebat.
5) Memiliki dua musim, yaitu musim hujan dan musim kemarau sebagai akibat pergerakan      angin monsun.
hubungan posisi geografis dengan perubahan musim di Indonesia.Letak Indonesia yang berada di antara benua Asia dan Australia mengakibatkan berhembusnya angin musim yang membawa musim hujan dan musim kemarau. Hal ini disebabkan karena perbedaan tekanan udara.
Angin muson : angin yang berubah arah setiap setengah tahun yang terjadi karena adanya perbedaan pemanasan antara belahan bumi utara dan belahan bumi selatan yang disebabkan adanya revolusi bumi mengelilingi matahari.
Angin muson tenggara berada di BBU saat benua Asia mengalami musim panas. Sementara itu di BBS, benua Australia mengalami musim dingin, angin bertiup dari benua Australia menuju benua Asia dan bergerak melewati gurun yang luas di Australia. Akibatnya angin yang bertiup itu bersifat kering sehingga menyebabkan musim kemarau di Indonesia.
Angin muson barat terjadi pada bulan Oktober-April ketika matahari di BBS, benua Asia mengalami musim dingin, sedangkan benua Australia mengalami musim panas. Akibatnya, tekanan udara di benua Asia lebih tinggi dari benua Australia. Dengan demikian angin akan bertiup dari benua Asia menuju Australia melalui laut Cina Selatan, angin ini mengandung uap air sehingga menyebabkan musim hujan di Indonesia.
Musim di Indonesia dipengaruhi oleh adanya gerak semu matahari. Gerak semu matahari terjadi karena pengaruh rotasi bumi dalam berevolusi (mengelilingi matahari). Perhatikan gambar dan uraian singkat berikut! Pada tanggal 23 Maret, posisi matahari tepat di atas khatulistiwa (0°), kemudian matahari seolah-olah bergeser ke arah Utara, hingga pada tanggal 21 Juni, matahari seolah-olah berada agak condong di Utara, yaitu di titik balik Utara.
Pergerakan matahari seolah-olah terus terjadi, seiring dengan berjalannya waktu, matahari kembali bergeser ke Selatan, hingga pada tanggal 23 September, matahari kembali tepat di atas khatulistiwa, kemudian matahari seolah-olah bergeser ke arah Selatan, hingga pada tanggal 22 Desember, matahari seolah-olah berada agak condong di Selatan, yaitu di titik balik Selatan. Pergerakan matahari seolah-olah terus terjadi, seiring dengan berjalannya waktu, matahari kembali bergeser ke Utara, hingga pada tanggal 23 Maret, matahari kembali tepat di atas khatulistiwa. Kondisi ini berjalan terus menerus sepanjang waktu.
Peristiwa tersebut akan berpengaruh terhadap kondisi kelembapan dan tekanan udara di Indonesia. Saat matahari banyak berada di wilayah belahan bumi Utara (antara pertengahan bulan Maret - September), maka di daerah Utara (kawasan Benua Asia) akan mengalami pemanasan maksimal. Hal ini menyebabkan daerah tersebut memiliki tekanan udara minimum. Kondisi ini menyebabkan angin berembus dari daerah bertekanan tinggi (dari belahan bumi Selatan atau Benua Australia) ke daerah bertekanan rendah (belahan bumi Utara atau Benua Asia). Gerakan udara ini menimbulkan angin monsun atau musim yang disebut angin monsun Timur (Tenggara), bertiup antara bulan April - Oktober. Perjalanan angin ini hanya melalui perairan yang relatif sempit, sehingga angin monsun Timur (Tenggara) hanya memiliki sedikit kandungan air. Hal ini menyebabkan terjadinya musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia.
 
Sebaliknya, saat kedudukan matahari berada di wilayah bumi bagian Selatan (antara pertengahan bulan September - Maret), maka di daerah Selatan (Benua Australia) akan mengalami pemanasan yang maksimal. Hal ini menyebabkan daerah tersebut memiliki tekanan udara minimum. Kondisi ini menyebabkan angin berembus dari daerah bertekanan maksimum (Benua Asia) ke daerah bertekanan minimum (Benua Australia). Gerakan udara ini menimbulkan angin yang disebut angin monsun Barat. Angin monsun Barat bergerak dari daratan Asia sekitar bulan Oktober - April. Dalam perjalanannya, angin ini melalui wilayah perairan yang cukup luas (Samudra Hindia dan Pasifik), sehingga memiliki kandungan uap air yang cukup besar dan mendatangkan musim hujan bagi sebagian besar wilayah Indonesia.




B.HUBUNGAN LETAK GEOGRAFIS DENGAN IKLIM
Berdasarkan posisi, garis lintangnya, dan ketinggiannya, setiap wilayah di permukaan bumi mempunyai ciri-ciri yang berbeda-beda, baik secara fisik maupun aktivitas kehidupannya. Faktor fisik tersebut meliputi topografis, lingkungan georafis, cuaca,iklim,dan sinar matahari.
 Iklim adalah pola cuaca khas di suatu daerah dalam jangka waktu yang lama. Secara umum, iklim dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa hal berikut ini:
1. Lintang astronomis yang disebut juga klasifikasi iklim berdasarkan kedudukan matahari              atau iklim matahari yang pembagiannya sebagai berikut:
a. Daerah iklim tropik, yaitu daerah yang melingkari globe bumi, dibatasi oleh 23 1/2o
   Lintang Utara dan 23o Lintang Selatan.
b. Daerah iklim sedang yang letaknya di daerah bumi utara. Posisinya terletak pada
    globe bumi yang dibatasi oleh oleh 23o dan 66o Lintang Utara atau lingkungan
    Kutub Utara, sedangkan di Belahan Bumi Selatan daerah ini dibatasi oleh 23o
    dan 66o Lintang Selatan (lingkungan Kutub Selatan).
c.  Daerah kutub di Belahan Bumi Utara yang dibatasi lintang terluarnya 66 o Lintang
    Utara, dengan titik Kutub Utara sebagai titik pusatnya dan di Belahan Bumi
    Selatan dibatasi oleh lintang terluarnya 66 o Lintang Selatan dan titik kutub
    selatan sebagai titik pusatnya.
2. Variabel fisikal sebagai proyeksi dari radiasi matahari yang disebut sistem iklim fisikal,
yaitu sebagai berkut:
a) variabel suhu (temperature);
b) pembakuan bulan terdingin;
c) pembakuan bulan terpanas;
d) variabel curahan hujan;
e) pembakuan bulan kering;
f) pembakuan bulan basah;
g) indikator (penunjuk) vegetasi;
h) potensi penguapan;
i) periode-periode yang berhubungan dengan suhu dan curahan hujan.
Berdasarkan kedudukan bumi terhadap matahari, bumi dapat dibagi menjadi tujuh
wilayah iklim sebagai berikut.
1. Wilayah Iklim Tropik
Wilayah iklim tropik terletak di antara garis lintang 23o30’LU – 23o30’LS, suhu udara rata-rata tinggi sepanjang tahun, yaitu berkisar 20oC – 28oC. Daerah musim tropik sebagai tempat gerakan-gerakan aliran udara konveksi atau gerakan udara secara vertikal. Wilayah iklim tropik meliputi Indonesia, Malaysia, Amazon, Kongo, Kamerun, dan Guenia hulu.
Wilayah iklim tropik di daerah sabana terletak pada garis lintang 5o – 15oLU/LS,
perbedaan musim hujan dan musim kemaraunya akan tampak jelas. Iklim sabana ditandai
dengan jarang hujan sehingga jenis vegetasinya berbentuk semak belukar dan padang
rumput. Wilayah Indonesia yang memiliki iklim sabana adalah Aceh Timur, Aceh Tengah,
Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.
2. Wilayah Iklim Subtropik Utara dan Selatan
Wilayah beriklim subtropik utara dan selatan terletak di garis lintang 23o30’LU –
40oLU dan 23o30’LS – 40oLS. Temperatur udara di wilayah musim subtropik tidak terlalu
panas dan tidak terlalu dingin. Wilayah ini sebagai tempat turunnya angin antipasat yang
kering dan panas. Selain itu, wilayah ini mempunyai tekanan udara maksimum.Wilayah
subtropik mengenal empat macam musim, yaitu musim panas (summer), semi (spring),
dingin (winter), dan gugur (autumn).                
3. Wilayah Iklim Sedang Utara dan Selatan
Wilayah iklim ini terletak di antara 40oLU – 66o30’LU dan 40oLS – 66o30’LS.
Wilayah iklim ini dipengaruhi oleh iklim laut serta dipengaruhi oleh sifat keringnya udara
yang bertiup di atas garis atau continental. Wilayah ini mempunyai empat musim, yaitu
musim panas (summer), musim semi (spring), musim dingin (winter), dan musim gugur
(autumn).
Keadaan wilayah iklim sedang di wilayah Eropa, cuaca atau udaranya lembap, langit
berawan, dan curah hujan tinggi. Wilayah-wilayah yang beriklim continental besifat panas,
kering, dan jarang turun hujan. Pada musim panas udaranya panas, dan pada musim dingin
temperaturnya rendah. Wilayah yang iklimnya sedang meliputi Amerika Utara dan Amerika
Timur, ujung Amerika Selatan, Eropa Timur, ujung Afrika Selatan, Kanada Tengah, dan
Australia Selatan.

4. Wilayah Iklim Dingin
Wilayah iklim dingin terletak di daerah Kutub Utara dan Kutub Selatan, tepatnya
pada garis lintang 66o30’LU – 90oLU dan 66o30’LS – 90oLS. Wilayah ini setiap tahun
selama 8 – 11 bulan rata-rata suhu udara di bawah 0o.           
Wilayah iklim dingin dibagi dua, yaitu sebagai berikut.
1) Wilayah iklim tundra di sekitar Laut Arktik, pesisir Amerika Utara, Kanada Utara,
dan Siberia Utara.
2) Wilayah iklim dingin diwarnai corak musim dingin sangat panjang sehingga hampir
semua daratan tertutup salju putih dan es tebal.
Pembagian iklim di atas sudah memberikan gambaran kepadamu tentang macammacam
iklim yang ada di bumi. Untuk memperkaya pengetahuanmu, berikut akan diuraikan
tentang pembagian iklim menurut beberapa ahli klimatologi.

a. Wladimir Koppen
Wladimir Koppen adalah seorang ahli klimatologi dari Austria. Ia membagi iklim
atas dasar rata-rata suhu udara dan curah hujan bulanan dan tahunan. Koppen berpendapat
bahwa suatu iklim termasuk basah atau kering ditentukan oleh indeks hujan. Klasifikasi
iklim menurut Koppen dapat diperinci sebagai berikut.
1) Iklim A (tropis), yaitu daerah bersuhu 18oC untuk bulan terdingin.
2) Iklim B (tundra dan kutub), yaitu daerah bersuhu 10oC untuk bulan terpanas.
3) Iklim C dan D (sedang), iklim C menempati pinggiran benua yang dipengaruhi iklim
    laut sehingga disebut iklim sedang hangat. Iklim D menempati pedalaman benua
    sehingga dinamakan iklim salju atau boreal. Adapun batas antara iklm C dan D pada
    daerah bersuhu 3oC untuk bulan terdingin.
Berdasarkan klasifikasi iklim di atas, Indonesia termasuk iklim A (tropis). Menurut
Koppen, iklim A dapat dikelompokkan menjadi beberapa daerah sebagai berikut.
1) Iklim hujan tropis meliputi beberapa daerah yang bercurah hujan tinggi. Daerah yang
    bercurah hujan tinggi terdapat di Pulau Sumatra, Kalimantan, dan Papua.
2) Iklim sabana meliputi daerah Nusa Tenggara Timur dan sekitarnya.
3) Iklim laut basah meliputi hampir seluruh kepulauan Indonesia terutama Sumatra,
    Kalimantan, dan Papua.
4) Iklim salju abadi terdapat di puncak Pegunungan Jaya Wijaya.

b. Schmidt-Ferguson
Schmidt-Ferguson membagi kriteria iklimnya sebagai berikut.
1)      Bulan basah, artinya suatu daerah yang dalam satu tahun curah hujannya lebih dari
100 mm/bulan.
2)       Bulan lembap, artinya suatu daerah yang dalam satu tahun curah hujannya 60 sampai
dengan 100mm/bulan.
3)       Bulan kering, artinya suatu daerah yang dalam satu tahun memiliki curah hujan kurang dari 60mm/bulan.Untuk menentukan iklim, dapat dihitung menggunakan rumus sebagai berikut:
Q = x100%
c. Oldeman
Oldeman membagi kriteria iklim dengan pedoman jumlah bulan basah secara berurutan sebagai berikut.
1)       Bulan basah, artinya suatu daerah dalam satu tahun memiliki curah hujan lebih dari
200mm/bulan.
2)       Bulan lembap, artinya suatu daerah dalam satu tahun memiliki curah hujan antara 100 sampai dengan 200mm/bulan.
3)      Bulan kering, artinya suatu daerah dalam satu tahun memiliki curah hujan kurang dari
100mm/bulan.
Prinsip dasar penentuam iklim menurut Oldeman adalah jika bulan basah berturut-turut sebagai berikut.
1) Iklim A jika jumlah bulan basah suatu daerah secara berturut-turut lebih dari 9 bulan.
2) Iklim B jika jumlah bulan basah suatu daerah secara berturut-turut antara 7-9 bulan.
3) Iklim C jika jumlah bulan basah suatu daerah secara berturut-turut antara 5-6 bulan.
4) Iklim D jika jumlah bulan basah suatu daerah secara berturut-turut antara 3-4 bulan.
5) Iklim E jika jumlah bulan basah suatu daerah secara berturut-turut kurang dari 3 bulan.
Berdasarkan uraian di atas, dapat ditarik benang merahnya bahwa letak Indonesia
yang berada di daerah tropis atau berada di sekitar garis khatulistiwa serta diapit oleh dua
benua dan dua samudra, sangat berpengaruh terhadap keadaan iklimnya. Indonesia
mempunyai iklim tropis yang ditandai dengan temperatur udara yang tinggi serta curah
hujan yang dipengaruhi oleh musim. Adanya perubahan arah angin juga berpengaruh
terhadap keadaan musim di Indonesia yang terbagi menjadi musim hujan dan musim
kemarau.



C. HUBUNGAN LETAK GEOGRAFIS DENGAN WAKTU
    DI INDONESIA
Bumi kita berbentuk bulat dan setiap harinya selalu berputar. Bumi berputar pada
porosnya disebut rotasi. Bumi kita berputar pada sumbunya dari arah barat ke timur. Untuk
satu kali putaran dibutuhkan waktu 24 jam. Maksud sekali putaran adalah bumi berputar
360o dalam waktu 24 jam. Dengan demikian, setiap jam bumi berputar 360o: 24 = 15o.
Adapun akibat dari rotasi bumi adalah sebagai berikut:
1) terjadinya siang dan malam;
2) terjadinya perbedaan waktu pada tempat yang berbeda letak meridian/bujurnya;
3) pembelokan arah angin.
Jika memperhatikan perhitungan waktu yang telah dipaparkan di atas, dapat ditentukan bahwa apabila matahari di tempat A mulai tampak, di tempat yang terletak 15o sebelah baratnya matahari akan tampak satu jam kemudian. Jadi, pada setiap wilayah yang terletak antara pergeseran 15oBT dari timur ke barat berselisih waktu 1 jam. Misalnya, Kota Jayapura di Provinsi Irian Jaya terletak pada 140oBT, dan Kota Manado di Sulawesi Utara terletak pada 125oBT. Selisih kedua kota tersebut dari garis BT adalah 140o– 125o = 15o. Maka,apabila di Jayapura pukul tujuh, di Manado berarti pukul enam.
Menurut perhitungan, lebar bujur di tanah air kita adalah 46o sebab letaknya antara
95oBT- 141oBT. Jadi, selisihnya adalah 141o– 95o= 46o. Berdasarkan hal tersebut,
Indonesia dibagi dalam tiga wilayah waktu, yaitu sebagai berikut.
1)  Standar wilayah meridian 105o BT, ditetapkan Waktu Indonesia Bagian Barat (WIB)
     yang meliputi seluruh wilayah Pulau Sumatra, Jawa dan Madura, Kalimantan Barat,
     Kalimantan Tengah. Perbedaan waktu antara WIB dengan GMT atau waktu
     Greenwich adalah sebanyak 7 jam.
2) Standar meridian 120o BT, ditetapkan Waktu Indonesia Bagian Tengah (WITA),
    yang meliputi wilayah Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Bali, NTT, NTB, dan
    Sulawesi. Perbedaan waktu antara WITA dengan GMT adalah sebanyak 8 jam.
3) Standar meridian 135o BT, ditetapkan Waktu Indonesia Bagian Timur (WIT), yang
    meliputi Kepulauan Maluku dan Irian Jaya. Perbedaan dengan GMT sebanyak 9 jam.
Dari penetapan tersebut, dapat diketahui bahwa selisih waktu untuk Indonesia barat,
tengah, dan timur adalah 60 menit atau satu jam. Adapun yang menjadi pegangan dalam
menentukan waktu adalah garis bujur.
Sejarah Pembagian wilayah waktu di Indonesia dimulai dengan terbitnya Keputusan
Presiden RI. No.243 Tahun 1963 yang membagi Indonesia dalam 3 (tiga) wilayah waktu
dan berlaku mulai 1 Januari 1964.

Gambar 1.7 Pembagian Wilayah Waktu di Indonesia
D.PERUBAHAN MUSIM DI INDONESIA
Seperti yang sudah kamu ketahui dari pembahasan sebelumnya, Indonesia merupakan
wilayah iklim tropik dan memiliki dua musim, yaitu musim hujan dan musim kemarau.
1. Musim Kemarau di Indonesia
Berlangsungnya musim kemarau di Indonesia bersamaan dengan bertiupnya angin
musim timur dan terjadi antara bulan Maret-September. Namun pada bulan Maret dan
September, gerakan angin belum menentu sehingga pada bulan tersebut dapat terjadi turun
hujan. Secara umum, jika iklimnya berjalan normal, musim kemarau di Indonesia
kebanyakan berlangsung antara bulan April sampai bulan September. Pada saat itu,
kelembapan udara sangat rendah sehingga terjadi kekeringan di beberapa daerah Indonesia.
2. Musim Hujan di Indonesia
Berlangsungnya musim hujan di Indonesia bersamaan dengan bertiupnya angin musim barat dan terjadi antara bulan September dan bulan Maret. Namun pada bulan itu, gerakan angin belum menentu sehingga kemungkinan bulan tersebut curah hujannya belum menentu.Secara umum jika iklimnya berjalan normal, musim hujan di Indonesia kebanyakan
berlangsung antara bulan Oktober sampai bulan Febuari. Di beberapa wilayah sering kali
hujannya sedemikian lebat hingga terjadi banjir.

E.PERSEBARAN FLORA DAN FAUNA DI INDONESIA
Pada zaman glasial, yaitu suatu zaman ketika air permukaan didominasi dalam
bentuk es yang beku dan terakumulasi di sekitar kutub, volume air laut masih sedikit
sehingga permukaan darat lebih luas. Pada saat itu, landas kontinental (lempeng) Asia
masih dalam bentuk daratan yang bersatu dan tidak terpisahkan oleh laut sehingga
fauna yang ada di wilayah Asia dapat bermigrasi, baik yang melalui perjalanan darat
maupun terbawa angin atau sungai. Begitu pula yang terjadi di landas kontinental
(lempeng) Australia.
Setelah zaman glasial berakhir, es di kutub mencair dan volume air laut
bertambah sehingga dataran rendah di pesisir banyak yang tergenang dan
berubah seperti sekarang ini. Oleh karena itu, ada kesamaan fauna antara Pulau
Sumatra, Jawa, dan Kalimantan serta pulau-pulau kecil yang ada di sekitarnya
karena wilayah tersebut tadinya terhampar dalam satu daratan yang tidak
terpisah oleh laut.
Berdasarkan wilayah flora dan fauna, Indonesia terbagi menjadi tiga yaitu sebagai
berikut.
1) Indonesia bagian barat, meliputi Pulau Sumatra, Pulau Jawa, Pulau Kalimantan, dan
pulau-pulau kecil yang ada di sekitarnya.


Gambar 2.1 flora sumatra
 2) Indonesia bagian tengah, meliputi Pulau Sulawesi, Kepulauan Maluku, dan Kepulauan
Nusa Tenggara;
3) Indonesia bagian timur, meliputi wilayah Papua dan pulau-pulau lain di sekitarnya.
Wilayah fauna Indonesia bagian barat dengan fauna bagian tengah dibatasi oleh garis
Wallace, sedangkan wilayah fauna Indonesia bagian tengah dengan wilayah Indonesia
bagian timur dibatasi oleh garis Weber.

Gambar 2.2 persebaran fauna
Penyebaran flora dan fauna di Indonesia dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor
tersebut di antaranya:
1) keadaan iklim;
2) keadaan tanah;
3) pengaruh makhluk hidup atau biotik.


Gambar 2.3 Peta Persebaran Fauna Indonesia berdasarkan Garis Wallace dan Garis Weber


1. Flora dan Fauna di Landas Kontinen Asia (Dangkalan
Sunda)
Jenis fauna yang ada di wilayah Indonesia bagian barat di antaranya sebagai berikut.
a) Jenis mamalia yang terdiri atas gajah, badak bercula satu, tapir, rusa, banteng, kerbau,
    monyet, orang utan, macan, tikus, bajing, kijang, landak, dan babi hutan.
b) Jenis reptil yang terdiri atas buaya, kura-kura, kadal, biawak, ular, bunglon, dan
    trenggiling.
c) Jenis burung terdiri atas burung hantu, elang, jalak, merak, kutilang, dan berbagai
    macam unggas.
d) Berbagai jenis serangga.
e) Berbagai macam ikan tawar, yaitu sejenis lumba-lumba dari Sungai Mahakam.
    Flora dan fauna yang ada di wilayah Indonesia bagian barat (Dangkalan Sunda) dapat
    dibedakan menjadi sebagai berikut.
a. Flora dan Fauna di Pulau Sumatra dan Sekitarnya
Flora khas Sumatra yang masih terpelihara dengan baik di antaranya terdapat di
Taman Nasional Gunung Leuser. Taman Nasional Gunung Leuser terdapat di wilayah
Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Kekhasan flora pada beberapa daerah ada
yang dijadikan maskot atau identitas daerah, seperti cempaka kuning dijadikan maskot
Nanggroe Aceh Darussalam. Adapun fauna yang dijadikan maskotnya adalah burung murai
kuning atau murai emas. Oleh karena itu, maskot Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam
sering disebut burung cempaka kuning.
Bunga kenanga dijadikan maskot masyarakat Sumatra Utara. Bunga ini digunakan
untuk upacara adat terutama pada upacara pemakaman dan ziarah kubur. Burung beo
merupakan burung khas Pulau Nias. Adapun pohon andalas dijadikan maskot Sumatra
Barat.
Fauna kawasan Sumatra Barat terdapat berbagai jenis hewan liar, seperti gajah,
harimau, rusa, dan kera. Jenis flora yang ada di Taman Nasional Gunung Leuser juga
tersebar di Bengkulu, seperti meranti, damar, kayu manis, dan suweg raksasa yang dijadikan
maskot pemerintah Bengkulu, sedangkan faunanya beruang madu.
Di Provinsi Riau, banyak dijumpai meranti, kemenyan, kamper, merawang, rotan,
dan damar. 




 

Gambar 2.4 fauna sumatra
Provinsi Riau mempunyai tanaman langka, yaitu nibung. Tanaman ini digunakan
untuk pipa air bagi lantai rumah panggung, dan bahan jembatan. Selain pohon nibung,
burung serindit juga dijadikan maskot Provinsi Riau. Adapun di Provinsi Jambi, flora terkenal di antaranya pohon pinang yang merupakan tanaman hias. Faunanya yang terkenal adalah harimau sumatra.
Flora khas Provinsi Sumatra Selatan adalah tanaman buah duku. Faunanya yang
terkenal adalah gajah, badak, harimau, tapir, siamang, beruang, buaya, dan ikan duyung.
Di Provinsi Lampung, flora khas yang terkenal adalah jenis bunga yang mempunyai
kebiasaan mekar di waktu sore, yaitu bunga ashar. Fauna yang banyak ditemukan adalah
gajah, badak sumatra, harimau, kera, babi, badak, kijang, dan musang.
b. Flora dan Fauna Pulau Jawa dan Bali
Flora khas DKI Jakarta di antaranya salak condet. Tanaman ini banyak ditanam di
daerah Condet. Provinsi DKI Jakarta pada awalnya memiliki banyak rawa dan hutan
mangrove (bakau). Hutan ini sebagai habitat yang baik untuk berbagai jenis burung di
antaranya elang bendol. Elang bendol ini dijadikan maskot Provinsi DKI Jakarta.
Flora khas Banten banyak dijumpai adalah hutan hujan tropis. Hujan sekundernya
banyak dijumpai di daerah yang padat penduduknya, seperti hutan jati, pinus, albasia, dan
kayu putih. Fauna khas Provinsi Banten adalah badak bercula satu, kera, banteng, kurakura,
penyu, dan buaya.
Flora khas yang banyak dijumpai di Provinsi Jawa Barat adalah hutan hujan tropik.
Hutan sekundernya banyak dijumpai yaitu karet, kina, cengkeh, kopi, cokelat, tebu, kapuk,
dan lain-lain. Flora yang dijadikan maskot Provinsi Jawa Barat adalah Gandaria.
Flora khas yang banyak dijumpai di Provinsi Jawa Tengah adalah jati dan tembakau.
Faunanya banyak dijumpai di hutan sebagai satwa liar, di antaranya kera, harimau, babi
hutan, dan ular. Flora khas yang dijumpai di Provinsi DI Yogyakarta adalah pohon kepel.
Tanaman ini dijadikan maskot Provinsi DI Yogyakarta. Fauna khas Yogyakarta di antaranya
musang, harimau, landak, dan burung. Burung perkutut adalah binatang yang dijadikan
maskot Provinsi DI Yogyakarta.
Flora khas Provinsi Jawa Timur antara lain jati, mahoni, dan akasia. Fauna yang
dijumpai antara lain rusa, babi hutan, anjing hutan, dan harimau jawa. Flora identitas Jawa
Timur adalah bunga sedap malam.
Flora yang terkenal di Provinsi Bali antara lain sawo kecik, kepelan, munde, kwanitan,
pandak, cempaka kuning, dan duren. Fauna yang ada di Provinsi Bali antara lain babi
hutan, kijang, rusa, banteng, dan harimau.
c. Flora dan Fauna di Daerah Pulau Kalimantan
Flora yang dijumpai di Provinsi Kalimantan Barat adalah tengkawang tungkul. Fauna
yang ada di Kalimantan Barat antara lain burung enggang gading yang dijadikan maskot
daerah. Flora khas di Provinsi Kalimantan Tengah adalah tenggaring. Tanaman ini mirip
dengan rambutan di Jawa Barat. Tanaman ini dijadikan maskot daerah Kalimantan Tengah.
Fauna maskot Kalimantan Tengah adalah burung kuau melayu.
Adapun flora yang terkenal di Provinsi Kalimantan Timur di antaranya meranti, ulin,
keruing, damar, lempung, agates, rotan, bambo, dan pakis. Flora yang dijadikan maskotnya
adalah anggrek hitam. Fauna yang banyak ditemukan di Provinsi Kalimantan Timur antara
lain kera, orang utan, babi, musang, dan ikan.Sementara, flora yang terdapat di Provinsi Kalimantan Selatan antara lain hutan primer,hutan sekunder, semak belukar, padang ilalang, dan rawa. Flora endemik Kalimantan Selatan adalah kasturi. Fauna endemik yang perlu dilindungi dan dijadikan maskot Provinsi Kalimantan Selatan adalah bekantan. Binatang ini merupakan spesies kera, sejenis lutung.
2. Flora dan Fauna di Landas Kontinen Australia
(Dangkalan Sahul)
Flora yang terkenal di daerah Papua antara lain agathis, podocarpus, nipah, kayu
putih, rotan, anggrek, sagu, dan umbi-umbian. Flora yang dijadikan maskot Pemda Papua
adalah matoa. Fauna di wilayah Indonesia bagian timur di antaranya sebagai berikut.
a) Jenis mamalia yang terdiri atas kanguru, wallaby, beruang, nokdiak (landak irian),
dan kuskus.
b) Jenis reptil yang terdiri atas buaya, biawak, ular, kadal, dan kura-kura.
c) Jenis amfibi yang terdiri atas katak pohon, katak terbang, katak air.
d) Jenis burung yang terdiri atas nuri raja udang, cendrawasih, dan kasuari.
e) Berbagai jenis ikan.
Burung cendrawasih dijadikan maskot Provinsi Papua. Burung tersebut dianggap
fauna asli Papua dan populasinya dewasa ini sudah langka.
3. Flora dan Fauna di Wilayah Wallace
Daerah Wallace meliputi wilayah Sulawesi, Maluku, dan Nusa Tengara. Flora yang
ditetapkan sebagai maskot Provinsi Sulawesi Utara adalah langsei. Tanaman ini merupakan
spesies beringin khas Sulawesi. Fauna di wilayah Sulawesi Utara di antaranya babi, rusa,
anoa, maleo, kera, buaya, ular, dan tangkasi. Tangkasi adalah sejenis monyet terkecil di
dunia. Binatang ini dijadikan maskot Sulawesi Utara.
Flora khas Provinsi Sulawesi Tengah adalah anggrek putri donggal, aghatis, meranti,
kayu palupi, rotan, dan kayu eboni. Fauna di wilayah ini yaitu tapir, anoa, babi rusa, monyet,
dan burung maleo. Flora di wilayah Sulawesi Selatan antara lain kayu hitam, akasia, rotan,
kemiri, bambu, markisa, dan anggrek. Flora yang dijadikan maskot daerah ini adalah lontar.
Jenis faunanya adalah babi rusa, anoa, dan babun jambul. Fauna yang dijadikan maskot
burung ranggong atau enggang sulawesi.
Flora yang dijumpai di Sulawesi Tenggara antara lain rotan, bakau, damar, dan
bambu.Fauna yang terkenal antara lain kera, babi hutan, burung maleo, dan anoa yang
dijadikan maskot. Adapun flora yang banyak dijumpai di Provinsi Maluku yaitu meranti,
kayu besi, kayu goppasa, jati, cendana, rotan, sagu, dan kayu putih di Pulau Buru. Fauna
di wilayah Maluku antara lain rusa, babi hutan, kerbau liar, sapi liar, kuskus, biawak, dan
penyu yang dijadikan maskot adalah burung nuri raja atau nuri Ambon.
Flora yang banyak dijumpai di Provinsi Nusa Tenggara Barat, yaitu kareng dan kayu
hitam serta ajan kallicung sejenis kayu hitam yang agak merah kekuningan. Maskot pemda
NTB adalah ajan kallicung. Fauna di wilayah ini adalah rusa, kijang, monyet, sapi liar,
biawak, ular, kuda, kerbau sapi, dan domba.
Flora yang ada di Provinsi Nusa Tenggara Timur adalah cendana, akasia, lontar
gewang, kayu putih, meranti, dan sirih hutan. Maskot Pemda Nusa Tenggara Timur adalah
kayu cendana. Fauna di wilayah NTT, misalnya kuda, rusa, babi hutan, kuskus, dan berbagai
jenis reptil seperti komodo
F. PERSEBARAN JENIS TANAH DI INDONESIA
Indonesia mempunyai daratan seluas ± 2 juta km², dari luas tersebut tidak seluruhnya
dapat diusahakan sebagai lahan pertanian, karena permukaannya berbeda-beda. Di satu
sisi kita sering mendengar “Indonesia” mempunyai tanah yang subur. Benarkah? Seperti
apakah tanah yang subur itu? Di daerah mana saja tanah yang subur itu di Indonesia dan
berapa besar penyebarannya?
Berdasarkan proses pembentukannya, maka tanah dapat dibedakan menjadi beberapa jenis menurut sifat-sifatnya. Jenis-jenis tanah di Indonesia, antara lain, dapat dibedakan seperti berikut ini.
Tanah Vertikal


gambar 2.5 profil tana

Bentuk persebaran tanah vertikal dapat kalian lihat saat ada penggalian parit, liang, atau sumur. Saat mencapai kedalaman tertentu, kalian akan melihat perbedaan warna lapisan tanah. Perbedaan warna lapisan tanah tersebut dikenal dengan sebutan profil tanah. Secara garis besar, profil tanah terdiri atas empat lapisan.
1) Lapisan tanah atas Lapisan tanah atas disebut juga topsoil, merupakan bentuk lapisan tanah yang paling subur, berwarna cokelat kehitam-hitaman, gembur, dan memiliki ketebalan hingga 30 cm. Pada lapisan tanah inilah berkembang aktivitas organisme tanah. Warna cokelat kehitaman dan kesuburan tanah pada lapisan ini disebabkan pengaruh humus (bunga tanah), yaitu campuran sisa tumbuhan dan hewan yang telah mati dan membusuk di dalam lapisan atas.
2) Lapisan tanah bawah Lapisan tanah bawah disebut juga subsoil, merupakan lapisan tanah yang berada tepat di bawah lapisan topsoil. Lapisan ini memiliki sifat kurang subur karena memiliki kandungan zat makanan yang sangat sedikit, berwarna kemerahan atau lebih terang, strukturnya lebih padat, dan memiliki ketebalan antara 50 - 60 cm. Pada lapisan ini, aktivitas organisme dalam tanah mulai berkurang, demikian juga dengan sistem perakaran tanaman. Hanya tanaman keras yang berakar tunggang saja yang mampu mencapainya.
3) Lapisan bahan induk tanah
Lapisan bahan induk tanah disebut juga regolith, merupakan asal atau induk dari lapisan tanah bawah. Pada profil tanah, lapisan ini berwarna kelabu keputih-putihan, bersifat kurang subur karena tidak banyak mengandung zat-zat makanan, strukturnya sangat keras, dan sulit ditembus sistem perakaran. Di lereng-lerang pegunungan lipatan atau patahan, lapisan ini seringkali tersingkap dengan jelas. Akan tetapi karena sifat-sifat tersebut, maka lapisan tanah ini sulit dibudidayakan dan hanya akan menghasilkan tanaman yang kerdil dan tidak berkembang.
4) Lapisan batuan induk Lapisan batuan induk disebut juga bedrock, merupakan bentuk batuan pejal yang belum mengalami proses pemecahan. Lapisan ini terletak di lapisan paling bawah, sehingga jarang dijumpai manusia. Akan tetapi di pegunungan lipatan atau patahan, lapisan ini terkadang tersingkap dan berada di lapisan atas. Bila hal ini terjadi, maka lahan tersebut merupakan lahan yang tandus dan tidak dapat ditanami karena masih merupakan lapisan batuan.
Tanah merupakan lapisan bumi paling luar sebagai tempat tumbuhnya tanaman. Tanah berasal dari hasil pelapukan batuan induk dan bahan-bahan organik dari tumbuhan dan
hewan yang telah membusuk. Bahan yang menyusun tanah terdiri atas zat padat, cair, gas,
dan organisme. Pelapukan batuan induk pembentuk tanah di daerah tropis sangat
dipengaruhi oleh faktor suhu dan kelembapan udara.
Jenis tanah yang ada di suatu tempat ditentukan oleh batuan induk, iklim, topografi,
bahan organik, dan umur.
 b. jenis-jenis tanah yang ada di Indonesia sebagai berikut.
1) Tanah aluvial atau tanah endapan adalah yang terbentuk dari material halus hasil
pengendapan aliran sungai di dataran rendah atau lembah. Tanah ini terdapat di pantai
timur Sumatra, pantai utara Jawa, dan sepanjang Sungai Barito, Mahakam, Musi,
Citarum, Batanghari, dan Bengawan Solo.





 

Gambar 2.6 tanah aluvial
2) Tanah vulkanis adalah tanah yang berasal dari abu hasil peletusan gunung berapi yang
sudah mengalami proses pelapukan. Tanah andosol terdapat di lereng-lereng gunung
api, seperti di daerah Sumatra, Jawa, Bali, Lombok, Halmahera, dan Minahasa.
Vegetasi yang tumbuh di tanah andosol adalah hutan hujan tropis, bambo, dan rumput.



Gambar 2.7 tanah vulkanis


3) Tanah regosol adalah tanah berbutir kasar dan berasal dari material gunung api. Tanah
regosol berupa tanah aluvial yang baru diendapkan dan tanah pasir terdapat di
Bengkulu, pantai Sumatra Barat, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara Barat. Material
jenis tanah ini berupa tanah regosol, abu vulkan, napal, dan pasir vulkan. Tanah regosol
sangat cocok ditanami padi, tebu, palawija, tembakau, dan sayuran.





Gambar 2.8 tanah regosol
4) Tanah kapur atau tanah mediteran adalah tanah yang terbentuk dari batu kapur yang
mengalami pelapukan. Tanah kapur terdapat di daerah perbukitan kapur Sumatra
Selatan, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan. Tanaman yang hidup di
daerah kapur adalah palawija, stepa, savana, dan hutan jati atau hutan musim.
Gambar 2.9 tanah kapur
5) Tanah litosol adalah tanah berbatu-batu. Bahan pembentuknya berasal dari batuan
keras yang belum mengalami pelapukan secara sempurna. Jenis tanah ini juga disebut
tanah azonal. Tanaman yang dapat tumbuh di tanah litosol adalah rumput ternak,
palawija, dan tanaman keras.
 
Gambar 2.10 tanah litosol
6) Tanah argonosol atau tanah gambut adalah tanah yang terbentuk dari sisa-sisa tumbuhan
rawa yang mengalami pembusukan. Jenis tanah ini berwarna hitam hingga cokelat.
Tanah ini terdapat di rawa Sumatra, Kalimantan, dan Papua. Tanaman yang dapat
tumbuh di tanah argonosol adalah karet, nanas, palawija, dan padi.
7) Tanah grumusol atau margalith adalah tanah yang terbentuk dari material halus
berlempung. Jenis tanah ini berwarna kelabu hitam dan bersifat subur, tersebar di
Jawa Tengah, Jawa Timur, Madura, Nusa Tenggara, dan Sulawesi Selatan. Tanaman
yang tumbuh di tanah grumosol adalah padi, jagung, kedelai, tebu, kapas, tembakau,
dan jati.
8) Tanah latosol adalah tanah yang banyak mengandung zat besi dan aluminium.Tanah
ini sudah sangat tua sehingga kesuburannya rendah.
Warna tanahnya merah hingga kuning sehingga sering disebut tanah merah. Tanah latosol mempunyai sifat cepat mengeras jika tersingkap atau berada di udara terbuka disebut tanah laterit.

Tanah latosol tersebar di Sumatra Utara, Sumatra Barat, lampung, Jawa Barat, Jawa Timur,
Bali, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Papua. Tumbuhan yang dapat
hidup di tanah latosol adalah padi, palawija, sayuran, buah-buahan, karet, sisal,
cengkih, kakao, kopi, dan kelapa sawit.
Kondisi tanah di Indonesia dikenal dengan kesuburannya sehingga ketika ditanami
suatu tanaman senantiasa tumbuh dan memberikan manfaat kepada pemiliknya. Suatu
tanah dikatakan subur apabila memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
1) banyak mengandung unsur hara atau zat-zat yang diperlukan tanaman untuk
pertumbuhannya;
2) cukup mengandung air yang berguna untuk melarutkan unsur hara agar dapat diserap
oleh akar tumbuhan;
3) struktur tanahnya baik, artinya susunan butir-butir tanah tidak terlalu padat dan tidak
terlalu lenggang.
c. Pemanfaatan Tanah di Indonesia :
1) Pemanfaatan secara langsung
Contoh : pembuatan batu bata, genteng dan campuran pembuatan semen
2) Pemanfaatan secara tidak langsung
Contoh : mengolah tanah untuk ditanami tanaman, untuk pondasi bangunan, dan saran transportasi seperti jalan.
RANGKUMAN
1. Letak geografis suatu wilayah adalah keberadaan posisi wilayah tersebut
    sesuai dengan bentuk dan letaknya di bumi.
2. Dilihat secara geografis, wilayah Indonesia terletak pada posisi yang strategis
    dan menguntungkan karena beberapa alasan sebagai berikut:
a) letak Indonesia di antara Benua Asia dan Benua Australia;
b) letak Indonesia di antara Samudra Pasifik dan Samudra Hindia.
3. Indonesia mempunyai iklim tropis yang ditandai dengan temperatur udara yang tinggi serta          curah hujan yang dipengaruhi oleh musim. Adanya perubahan arah angin juga berpengaruh terhadap keadaan musim di Indonesia yang terbagi menjadi musim hujan dan musim kemarau.
4.  Indonesia dibagi dalam tiga wilayah waktu berikut ini.
a) Standar wilayah meridian 105oBT, ditetapkan Waktu Indonesia Bagian
Barat (WIB) yang meliputi seluruh wilayah Pulau Sumatra, Jawa dan
Madura, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah. Perbedaan waktu antara
WIB dengan GMT atau waktu Greenwich adalah sebanyak 7 jam.
b) Standar meridian 120oBT, ditetapkan Waktu Indonesia Bagian Tengah
(WITA), yang meliputi wilayah Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan,
Bali, NTT, NTB, dan Sulawesi. Perbedaan waktu antara WITA
dengan GMT adalah sebanyak 8 jam.
c) Standar meridian 135oBT, ditetapkan Waktu Indonesia Bagian Timur
(WIT), yang meliputi Kepulauan Maluku dan Irian Jaya. Perbedaan
dengan GMT sebanyak 9 jam.
5. Wilayah fauna Indonesia bagian barat dengan fauna bagian timur dibatasi
oleh garis Wallace, sedangkan wilayah fauna Indonesia bagian tengah
dengan wilayah Indonesia bagian timur dibatasi oleh garis Weber.
6. Penyebaran flora dan fauna di Indonesia dipengaruhi oleh beberapa faktor.
Faktor tersebut di antaranya:
a) keadaan iklim;
b) keadaan tanah;
c) pengaruh makhluk hidup atau biotok.
7. Suatu tanah dikatakan subur apabila memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
a) banyak mengandung unsur hara atau zat-zat yang diperlukan tanaman
untuk pertumbuhannya;
b) cukup mengandung air yang berguna untuk melarutkan unsur hara agar
dapat diserap oleh akar tumbuhan;
c) struktur tanahnya baik, artinya susunan butir-butir tanah tidak terlalu
padat dan tidak terlalu lenggang.

SOAL LATIHAN
1.     Pilihan Ganda
Pilihlah jawaban yang kamu anggap paling benar!
1. Keberadaan posisi wilayah tersebut sesuai dengan bentuk dan letaknya di bumi
    disebut ....
    a. letak geologis
    b. letak astronomis
    c. letak strategis
   d. letak geografis
2. Secara geografis, Indonesia terletak di antara dua benua, yaitu ....
    a. Benua Asia dan Benua Australia
    b. Benua Asia dan Benua Amerika
    c. Benua Australia dan Eropa
    d. Samudra Pasifik dan Samudra Hindia
3. Laut yang terletak antara pulau-pulau Indonesia disebut ....
    a. laut teritorial        c. laut kontinen             
    b. laut nusantara       d. laut wilayah
4. Akibat letak geografisnya, Indonesia memiliki dua musim yaitu ....
    a. hujan dan tropis
    b. hujan dan semi
    c. kemarau dan hujan
    d. semi dan salju
5. Musim kemarau di Indonesia pada umumnya berlangsung pada bulan ....
    a. April – Oktober
    b. Oktober – April
    c. September – Januari
    d. Februari – Maret
6. Wilayah Indonesia yang masuk ke dalam WITA adalah ....
    a. Kalimatan Barat
    b. Kalimantan Tengah
    c. Bali
   d. Jawa Barat
7. Berikut yang tidak termasuk wilayah fauna Wallace adalah ....
    a. NTT                     c. Sumatra
    b. Sulawesi              d. Maluku
8. Jenis tanah yang dihasilkan oleh proses pelapukan material batuan gunung api
    adalah ....
    a. tanah vulkanik                 c. tanah gambut
    b. tanah aluvial                     d. tanah laterit
9. Pada tahun 2002, Pulau Sipadan dan Ligitan diputuskan oleh Mahkamah
    Internasional termasuk wilayah ....
    a. Indonesia
    b. Malaysia
    c. Singapura
    d. Filipina
10. Wilayah Indonesia bagian tengah dan wilayah Indonesia bagain barat dibatasi
       oleh ....
    a. paparan
    b. sahul
    c. wallace
   d. weber
II. Uraian

Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan tepat!

1. Jelaskan perbedaan letak geografis dengan letak astronomis!
2. Sebutkan tiga wilayah yang termasuk Waktu Indonesia Tengah (WITA)!
3. Faktor apa saja yang menyebabkan perbedaan jenis flora dan fauna di setiap
daerah?
4. Sebutkan jenis-jenis tanah yang ada di Indonesia!
5. Jelaskan sikap kamu jika salah satu pulau milik Negara Indonesia tiba-tiba diakui
oleh negara lain !
DAFTAR PUSTAKA
Departemen Pendidikan Nasional. 2006. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
       Ilmu Pengetahuan Sosial SMP. Jakarta: Pusat Perbukuan dan Badan Penelitian
      dan Pengembangan.
Muin, Idianto. 2004. Pengetahuan Sosial, Geografi. Jakarta: Grasindo
Tim Penyusun. 2002. ATLAS, Indonesia dan Dunia. Jakarta: Indo Buwana.







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar